Senin, September 14

JAKARTA I RMN Indonesia

Nilai tukar Rupiah kembali berada di bawah tekanan seiring meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran yang berpotensi mengganggu pasokan energi global. Mengutip data Bloomberg, Rupiah berada di level Rp17.614 per Dolar AS, melemah 3 poin atau sekitar 0,02 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya.

Pengamat pasar keuangan Ibrahim Assuaibi mengatakan, pelemahan Rupiah tidak terlepas dari kembali memanasnya konflik AS dan Iran. Eskalasi tersebut dikhawatirkan mengganggu jalur distribusi energi, terutama minyak mentah dari kawasan Timur Tengah.

Menurut Ibrahim, risiko gangguan pasokan tidak hanya datang dari Selat Hormuz, tetapi juga jalur strategis lainnya serangan kelompok Houthi yang didukung Iran di kawasan Bab el-Mandeb dinilai berpotensi mengganggu salah satu jalur penting pengiriman minyak dunia setelah Selat Hormuz.

“Kondisi ini mendorong para pedagang untuk memperhitungkan premi risiko yang jauh lebih tinggi dalam harga minyak mentah,” kata Ibrahim dalam risetnya.

Harga Minyak Tembus Level Tinggi ketegangan geopolitik tersebut turut mendorong harga minyak dunia kembali meningkat. Mengutip Reuters, harga minyak mentah Brent naik 2,89 persen menjadi 107,63 Dolar AS per barel pada pukul 08.45 WIB.

Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS naik 2,70 persen menjadi 102,75 Dolar AS per barel.

Lonjakan harga minyak menjadi perhatian serius bagi Indonesia. Sebagai negara yang masih berstatus net importir minyak, kenaikan harga minyak dunia dapat memberikan tekanan terhadap stabilitas ekonomi sekaligus ketahanan fiskal.

Ibrahim menilai salah satu dampak paling besar berada pada sisi APBN, terutama apabila pemerintah harus meningkatkan subsidi dan kompensasi energi.

“Dampak utama dan beban fiskal yang muncul akibat situasi tersebut adalah pembengkakan subsidi dan kompensasi energi membuat beban APBN meningkat,” tuturnya.

Subsidi BBM dan LPG Berpotensi Membengkak Ibrahim menjelaskan, apabila harga minyak dunia berada di atas asumsi Indonesian Crude Price (ICP) dalam APBN, kebutuhan anggaran untuk subsidi dan kompensasi energi akan ikut meningkat.

Tekanan tersebut dapat merembet ke berbagai komoditas energi yang menyentuh langsung masyarakat, termasuk BBM seperti Pertalite dan Solar serta LPG 3 kilogram.

Pemerintah pun menghadapi dilema. Di satu sisi, kenaikan harga BBM di tingkat konsumen berisiko menekan daya beli masyarakat dan memicu kenaikan harga barang serta jasa. Namun, jika harga BBM tetap ditahan, selisih antara harga keekonomian dan harga jual harus ditanggung negara.

“Apabila pemerintah memilih untuk tidak menaikkan harga BBM di tingkat eceran demi menjaga daya beli masyarakat, pemerintah harus menanggung selisih harga yang sangat besar yang berpotensi melebarkan defisit anggaran,” ujarnya.

Situasi tersebut membuat perkembangan konflik di Timur Tengah menjadi salah satu faktor penting yang perlu dicermati pemerintah. Bukan hanya berdampak terhadap harga minyak dan Rupiah, tetapi juga berpotensi menentukan besarnya tekanan terhadap APBN.

Rupiah Diprediksi Masih Fluktuatif untuk perdagangan hari ini, Ibrahim memperkirakan Rupiah masih bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah Ia memproyeksikan Rupiah berada di kisaran Rp17.610 hingga Rp17.650 per Dolar AS.

Sementara dalam perdagangan sepekan ke depan, Rupiah diperkirakan bergerak pada rentang yang lebih lebar, yakni Rp17.500 hingga Rp17.850 per Dolar AS.

Jika tekanan geopolitik terus meningkat dan harga minyak bertahan di atas US$100 per barel, pemerintah menghadapi tantangan ganda: menjaga daya beli masyarakat sekaligus mencegah lonjakan beban subsidi dan kompensasi energi yang semakin menekan APBN.(Agus).

Share.
Leave A Reply

Exit mobile version