Kamis, Juni 25

Jakarta | RMN Indonesia

Film pendek bertajuk “Sekolah Rakyat” segera diproduksi melalui kolaborasi Kementerian Sosial bersama platform Penjaga Harapan untuk mengangkat kisah perjuangan anak dari keluarga miskin ekstrem memperoleh akses pendidikan sebagai bagian dari upaya pengentasan kemiskinan.

“Sekolah Rakyat ini bukan tujuan, tapi alat yang disediakan negara agar anak-anak dari keluarga miskin bisa mewujudkan cita-citanya dan keluarganya bisa tergraduasi dari kemiskinan,” kata Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono saat menerima audiensi tim kreatif Penjaga Harapan di Kantor Kementerian Sosial, Jakarta, Selasa (23/6).

Dalam keterangannya, Rabu, Agus mengatakan mayoritas peserta didik Sekolah Rakyat berasal dari keluarga desil 1 dan desil 2 dalam Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) yang memiliki kondisi ekonomi sangat terbatas. Melalui konsep sekolah berasrama, program tersebut diharapkan membuka akses pendidikan yang layak tanpa terkendala zonasi maupun keterbatasan geografis.

Film berdurasi sekitar 25 menit itu akan mengangkat kisah seorang anak dari keluarga sederhana yang semula harus bekerja setiap hari hingga akhirnya memperoleh kesempatan bersekolah di Sekolah Rakyat. Cerita mengambil latar wilayah Cariu dan sekitarnya dengan mengusung pesan transformasi “dari gelap menuju terang”.

Koordinator Konten Penjaga Harapan Doni Adhitia mengatakan film tersebut disiapkan sebagai media untuk memperkenalkan nilai dan tujuan program Sekolah Rakyat kepada masyarakat melalui pendekatan dramatik yang menonjolkan perubahan hidup tanpa mengeksploitasi penderitaan.

“Kami berharap film ini menjadi kerja bersama untuk membawa nilai ideologis Sekolah Rakyat kepada masyarakat. Ini bukan sekadar cerita, tapi upaya menghadirkan empati dan pemahaman bahwa program ini benar-benar menyentuh kehidupan masyarakat,” ujarnya.

Agus juga menyatakan dukungan terhadap proses produksi film tersebut dan menegaskan pentingnya menghadirkan karya yang memberikan dampak bagi masyarakat.

“Kalau ini kita mulai, harus berhasil. Ini bukan sekadar produksi, tapi bagaimana masyarakat bisa melihat bahwa negara hadir dan memberi harapan,” katanya.

Direktur Utama Penjaga Harapan Wildanshah mengatakan film tersebut merupakan bagian dari upaya menjembatani komunikasi kebijakan pemerintah kepada masyarakat dengan pendekatan yang lebih mudah dipahami.

“Kami melihat film ini sebagai bagian dari upaya menyampaikan program pemerintah secara lebih membumi dan mudah dipahami masyarakat. Substansi program tetap milik negara, dan pendekatan kreatif seperti ini menjadi pelengkap untuk memperluas jangkauan pesan,” ujarnya.

Selain versi utama berdurasi sekitar 25 menit, tim produksi juga akan menyiapkan trailer berdurasi 30 detik untuk didistribusikan melalui berbagai kanal publik, termasuk videotron.

Produksi film dijadwalkan berlangsung selama tiga hari dengan pendekatan berbasis riset dan konsultasi bersama Kementerian Sosial serta komunitas perfilman. Film tersebut diharapkan dapat memperluas pemahaman masyarakat mengenai peran pendidikan dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan mendukung upaya pengentasan kemiskinan. (Fj)

Share.
Leave A Reply

Exit mobile version