Jakarta | RMN Indonesia
Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) merencanakan pembangunan kawasan tambak udang terintegrasi di Waingapu, Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), dengan nilai investasi mencapai Rp7,2 triliun.
Direktur Jenderal Perikanan Budidaya KKP, Tb Haeru Rahayu, menyatakan proyek tersebut dirancang sebagai model percontohan budidaya udang modern yang terintegrasi dari hulu hingga hilir serta berorientasi pada prinsip ramah lingkungan.
Kawasan tambak akan dibangun di atas lahan kurang dari 2.150 hektare dengan konsep budidaya terpadu (Integrated Shrimp Farming/ISF). Fasilitas yang disiapkan mencakup sistem pengambilan air laut, tandon, kolam budidaya, instalasi pengolahan air limbah (IPAL), hingga sarana pendukung lainnya.
Dari sisi pendanaan, proyek ini sebagian besar bersumber dari pinjaman luar negeri melalui skema kredit swasta asing, dengan nilai sekitar Rp6,1 triliun. Sementara sisanya berasal dari rupiah murni pendamping sebesar Rp1,1 triliun.
Pemerintah menargetkan pembangunan kawasan tersebut dapat dipercepat dari rencana awal tiga tahun menjadi sekitar dua tahun, sesuai arahan Presiden. Saat ini, progres pembangunan masih pada tahap awal berupa pembentukan petakan tambak.
KKP juga membuka peluang keterlibatan sektor swasta dalam mendukung kegiatan hulu hingga hilir, seperti penyediaan benih, pakan, hingga pengolahan hasil dan fasilitas penyimpanan.
Secara ekonomi, proyek ini diproyeksikan mampu menyerap ribuan tenaga kerja serta meningkatkan pertumbuhan ekonomi daerah. Kapasitas produksi ditargetkan mencapai puluhan ribu ton udang per tahun dan berpotensi memberikan kontribusi signifikan terhadap devisa negara melalui ekspor.
Pemerintah berharap pembangunan kawasan tambak udang ini tidak hanya meningkatkan produksi perikanan nasional, tetapi juga mendorong kesejahteraan masyarakat lokal di Sumba Timur.(fj)
