GUNUNGSITOLI | RMN Indonesia
Kabut asap yang diduga berasal dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di daratan Pulau Sumatera menyelimuti pusat Kota Gunungsitoli, Sumatera Utara, Sabtu (17/10/2026). Kondisi ini menyebabkan jarak pandang berkurang dan mendorong masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak kesehatan.
Pantauan Harian Merdeka di pusat Kota Gunungsitoli pada Sabtu pagi, kabut asap tampak menyelimuti langit kota. Sejumlah pengendara, terutama pengguna sepeda motor, terlihat mengenakan masker saat beraktivitas di jalan raya.
Pemerintah Kota (Pemko) Gunungsitoli telah mengeluarkan imbauan kepada masyarakat untuk mewaspadai dampak asap karhutla melalui Surat Edaran Nomor 300.2/6970/X/2026 tentang Kewaspadaan terhadap Dampak Asap Kebakaran Hutan dan Lahan.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Gunungsitoli, Adiman Perwira Harefa, mengatakan pihaknya telah melaporkan kejadian tersebut kepada Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) di Jakarta.
Menurut Adiman, Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD telah berkoordinasi dengan sejumlah instansi terkait untuk melakukan langkah penanganan, termasuk pembagian masker kepada masyarakat.
Tim gabungan juga turun langsung ke kawasan Alun-Alun Kota Gunungsitoli untuk membagikan masker. Dalam kegiatan tersebut, sebanyak 15.000 lembar masker disiapkan untuk membantu melindungi warga dari paparan asap.
“Aksi ini kita laksanakan akibat dampak karhutla di wilayah lain yang terjadi beberapa hari terakhir dan menyebabkan kabut asap menyelimuti udara di Kepulauan Nias, khususnya di Kota Gunungsitoli,” kata Adiman Harefa, Sabtu (17/10/2026).
Sebelumnya, Pemko Gunungsitoli bersama Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) juga menggelar aksi pembagian masker di Lapangan Merdeka Kota Gunungsitoli, Jumat (16/10/2026).
Kegiatan tersebut merupakan tindak lanjut dari surat edaran Wali Kota Gunungsitoli terkait kewaspadaan terhadap dampak asap karhutla. Aksi itu melibatkan Kepala BPBD Kota Gunungsitoli Adiman Perwira Harefa, Kepala Dinas Kesehatan Everoni Mendrofa, Ketua TP PKK Kota Gunungsitoli Ny. Veny Sowaโa Laoli, serta staf dan pengurus TP PKK.
Masyarakat diimbau mengurangi aktivitas di luar ruangan jika kabut asap semakin pekat. Warga yang terpaksa beraktivitas di luar rumah juga disarankan menggunakan masker serta menjaga kesehatan, terutama anak-anak, lanjut usia, dan masyarakat yang memiliki gangguan pernapasan.
Warga juga diminta mengikuti informasi resmi dari pemerintah terkait perkembangan kondisi udara dan langkah penanganan yang dilakukan.
Sementara itu, hingga berita ini ditulis, kegiatan belajar mengajar di sekolah tingkat SMP ke bawah belum diliburkan, meskipun kabut asap telah menyelimuti pusat kota. Belum ada pula informasi resmi mengenai tingkat pencemaran udara di Gunungsitoli maupun keputusan pemerintah terkait kemungkinan penghentian sementara kegiatan belajar mengajar.
Kondisi tersebut menjadi perhatian, terutama apabila kabut asap terus bertahan dan berpotensi mengganggu kesehatan masyarakat, termasuk para pelajar yang tetap menjalankan aktivitas di sekolah.(Adi).
