JAKARTA I RMN Indonesia
Tema penting yang selalu muncul di berbagai agenda nasional pelatihan manajemen proyek adalah SDM yang adaptif. Hal senada juga diangkat dalam forum “Systemic Impact through Transformative Training” 2026, yang menekankan bahwa keberhasilan transformasi tidak semata-mata ditentukan oleh besarnya visi, tapi oleh kemampuan organisasi untuk benar-benar menjalankannya.
Di tengah percepatan digital, pembangunan infrastruktur, transisi energi, dan target Indonesia Emas 2045, banyak organisasi menghadapi pertanyaan yang sama: kenapa strategi yang bagus di atas kertas sering tidak berjalan di lapangan? Dan jawabannya, lebih sering dari yang kita kira, bukan soal kurangnya strategi. Masalahnya ada di eksekusi.
Pergeseran ini ikut mengubah cara pandang terhadap manajemen proyek/Project Management. Jika dulu profesi ini identik dengan timeline, budget, dan scope, sekarang tuntutannya lebih luas. Project manager tidak hanya dituntut mengontrol proyek, namun juga menghubungkan strategi, manusia, dan implementasi dalam kondisi yang tidak selalu bisa diprediksi.
Project Management Institute (PMI) sudah bergerak ke arah itu. Dimulai dari filosofi M.O.R.E: Manage Perceptions, Own Success, Relentlessly Reassess, dan Expand Perspective, yang diperkenalkan di akhir 2025 lalu oleh PMI sebagai kerangka baru dalam mendefinisikan kesuksesan proyek. Pendekatan ini menggeser paradigma lama yang berfokus pada penyelesaian proyek sesuai waktu, biaya, dan ruang lingkup, menuju penciptaan nilai yang relevan bagi organisasi dan penangku kepentingan atau stakeholder.
Baru-baru ini, PMI Asia Pasifik, dalam kunjungannya ke Indonesia, berdiskusi tentang human-centered delivery, organizational capability, dan measurable outcomes baik dengan perusahaan-perusahaan swasta dan BUMN, maupun dengan Authorized Training Partner (mitra penyedia pelatihan) di Indonesia. Dalam kunjungan mereka di bulan Mei, PMI Asia Pasifik mengangkat topik utama bahwa proyek tidak hanya fokus pada selesai tepat waktu dan tepat budget, tapi apakah organisasi benar-benar berubah dan dapat bersaing di lingkungan yang semakin kompetitif dengan membangun kompetensi manajer proyek mereka, hal ini terutama dikarenakan ekonomi global akan membutuhkan 30 juta profesional dalam proyek manajemen pada tahun 2035. Indonesia diperkirakan jadi salah satu pasar terbesar di ASEAN.
Di Indonesia, tekanan itu terasa konkret. Sektor energi bergulat dengan transisi yang tidak sederhana: risk governance dan koordinasi lintas stakeholder yang makin kompleks. Sektor bisnis dan pemerintahan didorong digitalisasi yang menuntut eksekusi lebih cepat dan lebih terukur. Semua itu butuh orang yang tidak hanya paham framework, tapi tahu cara membuat sesuatu benar-benar berjalan.
Nurul Winanda, Program & Partnership Director Dcolearning, melihat ini secara langsung. Ia menilai perubahan orientasi yang sebelumnya berpatokan kepada pemenuhan timeline kerja kepada sinergi antara manusia, strategi dan eksekusi serta hasil yang terukur.
“Organisasi tidak lagi hanya butuh project manager yang bisa mengelola timeline. Yang makin dicari adalah profesional yang bisa menghubungkan strategi, manusia, dan execution jadi hasil yang terukur. Itu yang mulai jadi pembeda nyata sekarang.”, kata Nurul pada Selasa (19/05/2026).
Indonesia, menurutnya, punya momentum yang tidak kecil. Transformasi digital, infrastruktur, dan juga pengembangan SDM semuanya berjalan bersamaan dan cepat.
“Capacity building dalam Project Management harus dipandang sebagai kompetensi strategis setiap organisasi, bukan sekadar kebutuhan operasional proyek semata,” tambahnya.
Dcolearning, sebagai salah satu PMI Authorized Training Partner di Indonesia, merespons dengan memperluas fokus programnya, selain menjalankan program persiapan sertifikasi PMPยฎ๏ธ dan CAPMยฎ๏ธ, tapi juga program yang mendukung pengembangan execution capability dan organizational readiness untuk BUMN maupun swasta, mulai dari Project Management fundamentals sampai strategic project execution dan project risk management.
Mulai banyak disadari bahwa transformasi sering gagal bukan karena tidak punya teknologi atau strategi, tapi karena koordinasi yang buruk, komunikasi yang tidak jelas, dan kemampuan implementasi lintas fungsi yang tidak matang. Ketika perubahan datang lebih cepat, eksekusi adalah pembeda yang paling jelas.
Nurul menyatakan bahwa sertifikasi masih penting dan akan semakin penting. Tetapi yang sekarang benar-benar dicari bukan hanya orang yang bisa mengelola proyek. Melainkan, sumberdaya profesional manajemen proyek yang tahu apa yang harus dilakukan ketika rencana tidak berjalan sesuai harapan.(Fj).
