JAKARTA | RMN Indonesia
Gejolak ekonomi global yang melanda beberapa negara termasuk Indonesia memiliki dampak yang sangat besar terhadap kehidupan masyarakat.
Pengamat ekonomi dari Universitas Trisakti Willy Arafah mengatakan, erosi daya beli riil yang dipicu oleh eskalasi inflasi pangan (volatile foods) melampaui laju pertumbuhan upah nominal, sehingga menjadi tantangan fundamental bagi kesejahteraan masyarakat saat ini.
Willy menjelaskan jika kondisi tersebut mengakselerasi fenomena dissaving demi menjaga konsumsi subsisten di tengah volatilitas pasar tenaga kerja yang memicu pola konsumsi defensif.
Namun, optimisme tetap terjaga seiring upaya pemerintah dalam mengorkestrasi bauran kebijakan fiskal dan intervensi pasar yang presisi guna memperkuat jaring pengaman sosial serta menjaga stabilitas makroekonomi nasional secara berkelanjutan.
“Pemerintah harus mengoptimalkan kebijakan fiskal kontrasiklikal melalui ekspansi jaring pengaman sosial (social safety net) yang adaptif untuk memproteksi ambang batas konsumsi kelompok rentan dari guncangan pasar,” kata Willy kepada Harian Merdeka, Senin (27/4/2026).
Menurut Willy langkah ini perlu disinergikan dengan intervensi sisi penawaran guna meredam volatilitas inflasi pangan, serta stimulasi sektor riil melalui skema padat karya dan penguatan aksesibilitas pembiayaan mikro bagi UMKM sebagai economic buffer.
“Melalui sinkronisasi bauran kebijakan tersebut, pemerintah dapat memitigasi risiko kontraksi ekonomi di tingkat akar rumput sekaligus menjaga stabilitas permintaan agregat nasional secara berkelanjutan,” jelas Willy.
Selain itu, kata Willy manfaat program ekonomi pemerintah bagi masyarakat kecil bersifat krusial sebagai instrumen mitigasi risiko dan penyangga guncangan (shock absorber) guna menjaga lantai konsumsi rumah tangga di tengah tekanan inflasi.
” Program perlindungan sosial secara efektif berfungsi mencegah eskalasi angka kemiskinan melalui redistribusi pendapatan yang menopang daya beli riil masyarakat rentan,” ujarnya.
Selain itu, kata dia, intervensi berupa subsidi energi dan akses pembiayaan mikro berperan penting dalam menjaga keberlangsungan sektor informal, sehingga mampu menciptakan efek pengganda ekonomi (economic multiplier effect) di tingkat lokal yang menjadi fondasi bagi stabilitas permintaan agregat nasional.
Meskipun dampak gejolak ekonomi saat ini berisiko meninggalkan “efek luka memar” (scarring effect) pada daya beli dan produktivitas masyarakat dalam jangka panjang, pemerintah segera mengambil langkah-langkah strategis untuk memitigasi risiko tersebut.
“Melalui penguatan instrumen fiskal dan intervensi pasar yang terukur, pemerintah berupaya memulihkan ketahanan ekonomi rumah tangga agar tekanan saat ini tidak menjadi beban permanen, melainkan transisi menuju stabilitas ekonomi yang lebih kokoh,” ucapnya.(fj).
