JAKARTA I RMN indonesia
Ketua Umum Barisan Rakyat Nusantara (BaraNusa), Adi Kurniawan, menegaskan bahwa Indonesia membutuhkan arah kepemimpinan baru menjelang 2029. Ia menilai situasi nasional saat ini menunjukkan adanya kemunduran dalam keberpihakan terhadap rakyat, lemahnya ketegasan, serta penggunaan anggaran negara yang tidak tepat sasaran.
“Indonesia butuh pemimpin yang tegas. Tegas dalam menindak korupsi tanpa pandang bulu. Tegas dalam memastikan anggaran negara benar-benar digunakan untuk kesejahteraan rakyat, bukan untuk kepentingan segelintir kelompok. Tegas dalam melindungi generasi muda dari kebijakan yang merugikan masa depan mereka,” ujar Adi dalam keterangannya.
Adi secara khusus menyoroti program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih yang dinilainya sarat persoalan. Menurutnya, kedua program tersebut menjadi contoh nyata bagaimana uang negara berpotensi dihamburkan tanpa dampak signifikan bagi rakyat.
“Persoalan MBG dan Koperasi Desa Merah Putih adalah persoalan nyata. Anggaran besar digelontorkan, tetapi yang diuntungkan justru para pemburu rente. Transparansi lemah, pengawasan minim, dan rakyat hanya jadi objek,” tegasnya.
Lebih jauh, Adi membandingkan arah pembangunan di era Presiden Joko Widodo dengan kondisi pemerintahan saat ini di bawah Presiden Prabowo Subianto. Ia menilai, pada masa Jokowi, pembangunan infrastruktur berjalan masif dan menjadi tulang punggung pertumbuhan ekonomi, meskipun tetap memiliki catatan kritik.
“Di era Jokowi, kita melihat pembangunan infrastruktur berjalan nyataโjalan tol, pelabuhan, bandara, hingga konektivitas antarwilayah. Itu bisa dirasakan langsung oleh masyarakat,” katanya.
Namun, ia menilai dalam dua tahun terakhir, arah pembangunan justru kehilangan fokus. Banyak proyek infrastruktur dinilai melambat, bahkan terbengkalai, sementara anggaran negara tertekan untuk membiayai program-program yang dinilai belum jelas efektivitasnya.
“Dua tahun kaum tua berkuasa, pembangunan infrastruktur justru nihil. APBN sampai tekor demi program seperti MBG, sementara banyak proyek dibiarkan mangkrak. Ini ironi di tengah kebutuhan rakyat yang semakin mendesak,” ujarnya.
Adi juga mengkritik pola kepemimpinan yang dinilai tidak cukup tegas dalam menghadapi persoalan korupsi dan penyimpangan anggaran. Ia menegaskan bahwa Indonesia tidak bisa terus dipimpin dengan pendekatan kompromistis yang merugikan rakyat.
“Rakyat tidak butuh pemimpin yang ragu-ragu. Rakyat butuh keberanian, ketegasan, dan energi untuk bekerja. Bukan sekadar retorika, tapi tindakan nyata,” katanya.
Dalam pernyataannya, Adi juga menegaskan sikap politiknya terhadap kepemimpinan nasional ke depan. Ia menyebut bahwa satu periode kepemimpinan saat ini sudah cukup jika Indonesia ingin bangkit dan kembali ke arah yang benar.
“Prabowo cukup satu periode jika Indonesia mau bangkit. Rakyat tidak boleh diam. Rakyat harus bersatu, bersuara, dan berseru: 2029 ganti presiden,” tegasnya.
Menurut Adi, momentum 2029 harus dimanfaatkan untuk menghadirkan pemimpin muda yang energik, progresif, dan memiliki keberpihakan jelas kepada rakyat. Ia menilai, tanpa perubahan kepemimpinan yang signifikan, Indonesia berisiko kehilangan arah di tengah persaingan global yang semakin ketat.
“2029 harus jadi titik balik. Indonesia butuh pemimpin muda yang berani membongkar praktik rente, berani meluruskan arah kebijakan, dan benar-benar bekerja untuk rakyat. Kalau tidak, kita hanya akan jalan di tempat, bahkan mundur,” pungkasnya.(fj)
